PersadaPos, BATANG – Capaian investasi di Jawa Tengah bukan sekadar mengejar angka di atas kertas. Di usia provinsi yang genap 81 tahun, Pemprov Jawa Tengah mendorong agar penanaman modal memberikan dampak nyata bagi perekonomian, terutama dalam membuka lapangan kerja bagi masyarakat.
Muhammad Ikmal merasakan betul dampak positif pembukaan kawasan industri di Batang. Pemuda 20 tahun asal Desa Binangun, Kecamatan Bandar, itu kini bekerja sebagai operator printing di PT Yih Quan Footwear di KEK Industropolis Batang.
Saat ditemui di rumahnya, Ikmal berkisah, sebelum bekerja di perusahaan alas kaki tersebut, dia sempat bekerja serabutan sebagai kuli setelah lulus SMA. Kemudian, Ikmal mengikuti pelatihan di Balai Industri Produk Tekstil dan Alas Kaki (BIPTAK) milik Disperindag Provinsi Jawa Tengah. Selama 20 hari, dia dan ratusan calon pekerja lainnya mendapat pelatihan, makan, dan penginapan secara gratis.
Setelah mengikuti pelatihan, Ikmal ditempatkan di PT Yih Quan Footwear sebagai operator. Kini, dia telah bekerja selama 10 bulan dan berstatus sebagai karyawan tetap, dengan total gaji melebihi UMK Batang, dan bisa membantu perekonomian keluarganya.
“Dulu menjadi beban keluarga. Sekarang bisa bantu-bantu membeli keperluan rumah tangga. Dengan gaji pertama saya, alhamdulillah saya bisa membelikan ibu saya cincin, yang mana perhiasan itu pernah dijual untuk keperluan saya sekolah,” ungkapnya, Minggu (16/8/2026).
Supriyati, ibu Ikmal, mengaku bangga atas capaian anaknya. Dengan kondisi suaminya yang bekerja sebagai kuli, kini harapan untuk memperbaiki ekonomi keluarga tersemat di pundak putra sulungnya.
“Saya kaget dan terharu, saat Ikmal memberi kejutan di hari pertama gajian, memberi saya cincin. Emak, tak paringi cincin,” kenangnya.
Hal serupa dirasakan Sella Sefira, warga Desa Pesalakan, Kecamatan Bandar. Lulusan BIPTAK itu kini bekerja sebagai input printing di PT Yih Quan Footwear, produsen alas kaki untuk sejumlah merek internasional, seperti HOKA dan Converse.
“Kini bisa bantu-bantu kebutuhan, seperti beli token listrik dan bantu sekolahkan adik juga. Kalau gaji pertama saya serahkan bapak dan ibu serta memperbaiki handphone,” urainya.
Baik Ikmal maupun Sella, berharap lapangan kerja di Jawa Tengah terus diperluas seiring dengan masuknya investasi. Mereka juga berharap akses pelatihan gratis semakin banyak, seiring Provinsi Jawa Tengah memasuki usia ke-81 tahun.
Berdasarkan catatan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Tengah, realisasi investasi pada semester I 2026 mencapai Rp48,54 triliun. Investasi tersebut menyerap tenaga kerja sebanyak 213.217 orang dari 55.989 proyek.
Di sisi ketenagakerjaan, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah penduduk yang bekerja di Jawa Tengah pada Mei 2026 mencapai 21,40 juta orang. Angka tersebut meningkat 16,36 ribu orang dibandingkan Februari 2026.
Sementara itu, jumlah penduduk miskin di Jawa Tengah pada Maret 2026 tercatat 3,29 juta orang atau 9,21 persen. Jumlah tersebut turun 59.390 orang dibandingkan September 2025, dan berkurang 81.250 orang dibandingkan Maret 2025.
Selain itu, perekonomian Jateng tumbuh 5,71 persen pada triwulan II 2026.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan pembangunan harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Dia menjelaskan, pelatihan di BIPTAK merupakan salah satu ikhtiar Pemprov Jateng, untuk membantu warga keluar dari kemiskinan sekaligus menurunkan angka pengangguran.
Sejalan dengan itu, Pemprov Jawa Tengah juga mendorong pengembangan kawasan industri di sejumlah daerah. Langkah tersebut dilakukan untuk mendukung ketersediaan infrastruktur sekaligus memberikan kemudahan bagi investor.
Menurutnya, investasi tidak hanya meningkatkan nilai penanaman modal, tetapi juga membuka kesempatan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi, yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.(Lind)


