Ahmad Luthfi menerima audiensi perwakilan Kedutaan Besar Inggris dan Techne Praxis International di kantornya, Kamis, 17 September 2026. (Foto:Dok)
PersadaPos, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi meminta pengembangan kawasan berorientasi transit (KBT) di wilayahnya dapat diselesaikan dalam kurun waktu dua tahun ke depan. Hal ini guna mengantisipasi pertumbuhan industri serta mendukung konektivitas wilayah Semarang hingga Batang.
“Kalau KITB, Kawasan Industri Kendal, dan Semarang berkembang, maka pergerakan orang dan barang jangan sampai ada bottle neck atau sumbatan,” kata Luthfi saat menerima audiensi dengan perwakilan Kedutaan Besar Inggris dan Techne Praxis International di kantornya, Kamis, 17 September 2026.
Ia menjelaskan, kajian pengembangan kawasan berorientasi transit (KBT) tersebut sudah dilakukan dengan bantuan Pemerintah Inggris dan Techne Praxis International. Di mana kajian tersebut mempertimbangkan hubungan antar kabupaten/kota dan pertumbuhan ekonomi berdasarkan kawasan.
Melalui pengembangan itu, harapannya mulai dari Stasiun Tawang Semarang, Weleri Kendal, hingga Kabupaten Batang nanti akan terhubung untuk pergerakan orang dan barang melalui integrasi transportasi.
Saat ini rencana pengembangan KBT dan konektivitas Semarang—Batang tersebut masih menunggu regulasi yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. Setelahnya baru dapat dilakukan penandatanganan nota kesepakatan dan rencana kerja. Untuk itu, Luthfi mendorong pemerintah pusat untuk mempercepat agar pengembangan bisa segara dilakukan.
“Saya sudah minta Asisten Ekonomi dan Pembangunan untuk segera dirapatkan dengan kementerian terkait agar segera dieksekusi. Ini harus cepat karena dua tahun ke depan kawasan industri kita sudah penuh. Tidak hanya pergerakan orang, barang atau logistik juga penuh,” jelasnya.
Ia menambahkan, pengembangan KBT tersebut juga didorong untuk diintegrasikan dengan rencana pembangunan dry port. Saat ini yang sudah disetujui dan sedang dimatangkan adalah rencana dry port di Batang dengan lahan yang tersedia sekitar 50 hektare.
Sementara itu, Managing Director Techne Praxis International, Puspita Galih Resi, mengatakan memang sudah ada studi yang didukung oleh Pemerintah Inggris dengan dana hibah. Bahkan sudah diperhitungkan juga bagaimana pengelolaan kawasan berorientasi transit tersebut.
“Namun dari satu koridor ini (Tawang—Weleri—Batang), hanya dua yang diutamakan dengan melihat urgensinya yaitu KBT Tawang dan KBT Weleri,” ujarnya.
Dijelaskan, Weleri menjadi urgensi karena menjadi tangkapan atas pertumbuhan ekonomi yang terjadi di kawasan industri Batang. Sebab tidak mungkin semua infrastruktur dipusatkan di Batang, misalnya terkait hunian. Maka yang perlu dilakukan adalah bagaimana kota atau daerah tetangga mampu mengampu dan menampung kebutuhan-kebutuhan lainnya dari kawasan industri tersebut. (Lind)


