PersadaPos, SEMARANG – Pelaksanaan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) enam standar pelayanan minimum (SPM) di Jawa Tengah, diharapkan tidak sebatas membuka meja dan mendata. Namun, bisa dengan mengadakan sejumlah kegiatan, serta upaya menindaklanjuti aduan dari masyarakat.
Hal itu ditegaskan Ketua Tim Pembina Posyandu Provinsi Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, saat membuka Bimbingan Teknis Penguatan Kelembagaan, Inovasi, dan Praktik Baik Implementasi Program Posyandu, secara daring melalui zoom, Senin (5/10/2026).
Menurutnya, transformasi Posyandu dari semula hanya memberikan layanan kesehatan menjadi 6 SPM memang tidak mudah. Tapi, proses transformasi tersebut justru untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
“Proses transformasi yang kita lakukan ini mencakup semua siklus hidup, dari ibu hamil, bayi lahir, sampai lansia (lanjut usia). Ini butuh kesiapan kita untuk bertransformasi, menghubungkan kebutuhan masyarakat dengan layanan dasar,” ujar Nawal.
Dia terus mendorong kader Posyandu untuk berinovasi dalam melakukan kegiatan. Nawal mencontohkan, Posyandi di Kota Surakarta yang telah menyediakan layanan kesehatan mental, layanan pojok baca, serta terdigitalisasi. Posyandu di Sragen juga berinovasi dengan membuat aneka flyer untuk sosialisasi, seperti bagaimana mitigasi kekeringan, banjir, dan sebagainya, yang diikuti dengan penjelasan langsung dari para kader Posyandu.
“Enam SPM ini tidak merepotkan, tapi kebutuhan. Kita berkomitmen bersama tidak hanya mendata, tapi tentu untuk memberikan kebutuhan masyarakat yang ada. Sehingga, bagaimana masyarakat ini menghubungi kader posyandu, Tim Pembina Posyandu mengoordinasikan, bagaimana OPD bisa hadir untuk memberikan jawaban terhadap aduan-aduan yang ada. Sehingga, Posyandu setiap kali ada aduan, laporannya bukan hanya catatatannya sudah dilaksanakan dan ditindaklanjuti. Tapi, tindaklanjutnya seperti apa,’ tegas istri Wakil Gubernur Jateng ini.
Nawal membeberkan program unggulan TP Posyandu Provinsi Jawa Tengah, yang selaras dengan semangat Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen. Pada Bidang Pendidikan, Posyandu mendekatkan akses pendidikan anak usia dini dan literasi kepada masyarakat, melalui PAUD Emas (berbasis masyarakat), serta perpustakaan desa dan pojok baca. Di Bidang Kesehatan, untuk menuju keluarga dan masyarakat sehat, kuat, dan sejahtera, ada program Kencan Bumil (Kenali dan Cek Kesehatan Ibu Hamil), serta Logis (Layanan Online Psikolog Gratis).
Bidang Pekerjaan Umum, ada program Pilah Sampah dan Jelantah Jadi Rupiah, serta akses air bersih dan sanitasi sehat. Untuk Bidang Perumahan Rakyat, mendorong perumahan layak dan sehat serta ketahanan pangan, melalui rehab rumah tidak layak huni, serta kebun gizi dan lingkungan asri.
Bidang Trantibumlinmas menyiapkan masyarakat menghadapi risiko bencana dan respons cepat gangguan keamanan ketertiban masyarakat. Antara lain melalui mitigasi bencana, serta pos kampung dan layanan aduan terintegrasi. Kolaborasi lintas sektor penting untuk masyarakat yang aman, tangguh menghadapi bencana, dan terlindungi.
“Posyandu harus ada hotline, nomor yg bisa dihubungi, bisa juga untuk layanan kekerasan perempuan dan anak. Misalnya di Wonosobo, hotline itu terintegrasi ke lapor bupati, itu tidak apa-apa. Tetapi kepastian tertangani atau tidak, itu yang penting,” ungkap Nawal.
Untuk Bidang Sosial, ada perlindungan disabilitas dan pengaduan kekerasan terhadap perempuan dan anak, usaha ekonomi produktif, agen Dukcapil dan Perlinsos, serta layanan sosial untuk masyarakat rentan, termasuk lansia.
“Kembali lagi, kita tidak bisa hanya duduk dan menunggu masyarakat hadir. Tapi, Posyandu tidak bekerja sendiri. Ada OPD mitra, komunitas, masyarakat, kader desa, kelurahan, kabupaten/ kota. Ayo kita kerja samakan, kolaborasikan dengan kemitraan-kemitraan,” tandasnya. (Lind)


