Ahmad Luthfi menerima audensi para peternak unggas di Semarang, Rabu, 10 Juni 2026. (Foto:Dok)
PersadaPos, SEMARANG — Para peternak unggas yang tergabung dalam Koperasi Peternak Unggas Sejahtera (KPUS) melakukan audiensi dengan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi di Semarang pada Rabu, 10 Juni 2026.
Audiensi tersebut untuk menyampaikan aspirasi terkait anjloknya harga jual telur, serta kelebihan pasokan, dan kurangnya daya serap pasar.
Ketua Umum KPUS, Suwardi mengatakan, produksi telur di Jawa Tengah saat ini surplus. Produksi telur di Jawa Tengah secara keseluruhan per hari sekitar 2.300 ton, sedangkan kebutuhan per hari maksimal sekitar 1.600 ton. Jumlah kebutuhan tersebut ketika daya beli masyarakat baik.
Harga telur di kandang atau di tingkat produsen saat ini rata-rata Rp21.000 per kg. Sangat jauh dari harga acuan pembelian (HAP) telur ayam sebesar Rp26.500 per kg. Hal itu berdampak pada margin keuntungan peternak.
“Kondisi hari ini, harga biaya pokok produksinya naik, tetapi harga telurnya juga turun,” kata dia.
Ia berharap Badan Gizi Nasional (BGN) bisa menyerap telur lebih banyak untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Maka dari itu, ia berharap Gubernur Ahmad Luthfi dapat mengkoordinasikan berkaitan dengan penyerapan telur oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah Jawa Tengah.
Sebelum bertemu Ahmad Luthfi, KPUS juga telah menemui Menteri Pertanian untuk menyampaikan persoalan yang sama. Kementerian Pertanian sudah berkoordinasi dengan BGN terkait masukan dari para peternak tersebut.
Merespons persoalan yang dihadapi oleh para peternak unggas tersebut, Gubernur Ahmad Luthfi langsung menginstruksikan kepada Satgas MBG Provinsi Jawa Tengah guna melakukan koordinasi dengan kabupaten/kota.
Ia juga meminta kepada Dinas Ketahanan Pangan serta Dinas Koperasi dan UMKM untuk menyiapkan langkah-langkah mengatasi anjloknya harga dan surplus telur, termasuk ketersediaan pasokan pakan ternak.
“Hari Jumat langsung lakukan koordinasi. MBG kita harus bisa menyerap tenaga kerja, bahan pokok penting, dan tepat sasaran. Ini berkaitan dengan inflasi juga soalnya,” katanya saat menerima perwakilan peternak unggas.
Terkait dengan harga telur tersebut juga sempat disinggung Ahmad Luthfi dalam Rakor Tim Pengendali Inflasi (TPID) dan Temu Bisnis yang digelar di gedung Gradhika Bhakti Praja Semarang.
Menurut dia, surplus telur telah berdampak pada rendahnya harga beli di tingkat petani. Karenanya, perlu adanya intervensi pemerintah dan stakeholder terkait agar harga telur tidak di bawah HAP.
“Telur kita harus bisa dinikmati oleh masyarakat, petaninya juga harus dapat untung, serta bisa membuat masyarakat kita lebih sejahtera,” kata dia. (Lind)
