Ekspresi siswa siswi penerima MBG menyantap jatahnya masing-masing. (Foto:Dok)
PersadaPos, SEMARANG — Edukasi gerakan stop pemborosan pangan, kepada siswa penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG), kerja sama Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah dan Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nuswantoro (Udinus), terus diintensifkan. Kali ini sasarannya siswa SDN Miroto 01 Semarang.
Sejumlah mahasiswa Undinus turun langsung ke sekolah itu, Selasa (13/5/2026), untuk memberikan penjelasan mengenai dampak membuang makanan terhadap lingkungan. Film animasi bertema food waste, yang diproduksi mahasiswa Ilmu Komunikasi Udinus, menjadi media edukasi yang lebih mudah dipahami anak-anak.
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Udinus, Jihan Aisya Nugroho mengatakan, kampanye food waste dilakukan karena masih banyak anak-anak yang sering menyia-nyiakan makanan, tanpa memahami manfaatnya bagi tubuh maupun lingkungan.
“Kami memberikan edukasi, bahwa makanan yang dibuang dapat berdampak pada lingkungan sekitar. Jadi, kami mengajak anak-anak untuk lebih menghargai makanan,” ujarnya.
Menurut Jihan, pendekatan kepada siswa SD relatif lebih mudah, mengingat anak-anak masih berada pada usia yang cepat menerima edukasi baru.
“Tadi memang ada beberapa anak yang kurang menyukai menu tertentu, seperti buah atau rasa ayam yang pedas. Tapi sebagian besar tetap menghabiskan makanannya. Banyak juga yang sebenarnya hanya menunggu waktu makan yang biasa mereka lakukan,” katanya.
Jihan menegaskan, MBG memiliki kandungan gizi yang telah disusun seimbang, sehingga penting untuk dikonsumsi secara utuh oleh siswa.
“Kalau dihabiskan keseluruhan, pasti akan memberikan energi yang banyak untuk tubuh,” bebernya.
Kepala SDN Miroto 01 Semarang, Sumarni, menyambut positif kegiatan edukasi tersebut. Menurutnya, kegiatan itu mampu memotivasi siswa untuk memahami manfaat konsumsi buah, sayur, serta pentingnya menghabiskan makanan.
“Dengan adanya kegiatan ini sangat mendidik sekali. Anak-anak jadi tahu manfaat makan buah, sayur, dan bagaimana jika makanan tidak dihabiskan,” ujar Sumarni.
Dia berharap, kegiatan serupa dapat terus dilakukan secara berkelanjutan, agar siswa semakin terbiasa menerapkan pola konsumsi pangan sehat dan tidak membuang makanan.
Sementara, Kepala Bidang Kerawanan Pangan dan Gizi Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah, Herdini Nur Airianik menjelaskan, edukasi dilakukan untuk meningkatkan pemahaman siswa terkait konsumsi pangan yang bijak, sekaligus mencegah pemborosan pangan.
“Hari ini kami melakukan edukasi stop pemborosan pangan. Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah berkolaborasi dengan Universitas Dian Nuswantoro Semarang, khususnya mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi, melakukan edukasi kepada siswa SD di 23 SD Negeri Kota Semarang,” terangnya.
Menurut Herdini, kegiatan tersebut dilatarbelakangi oleh maraknya timbulan sampah pangan yang ramai diperbincangkan di media sosial, khususnya berkaitan dengan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis.
“Dengan kegiatan ini, diharapkan anak dapat mengetahui bagaimana mengonsumsi pangan secara bijak, dan pentingnya pangan bergizi seimbang untuk tumbuh kembang anak,” terangnya.
Ditambahkan, selain edukasi, kegiatan itu juga menjadi sarana untuk mengetahui daya terima siswa terhadap menu MBG yang disediakan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Pemprov Jateng berharap, program MBG mampu mendukung terwujudnya generasi yang sehat, cerdas, kuat, ceria, dan berkualitas.
“Kami ingin menyelamatkan pangan, dan mengajak anak-anak stop boros pangan,” tegasnya.
Herdini menambahkan, kegiatan tersebut masih menjadi proyek percontohan di 23 SD Negeri Kota Semarang. Ke depan, pihaknya berharap kolaborasi serupa dapat diperluas dengan perguruan tinggi lain di berbagai kabupaten dan kota di Jawa Tengah.
“Harapan kami bisa berkolaborasi dengan universitas-universitas lain sehingga edukasi konsumsi pangan yang beragam, bergizi, seimbang, aman, serta pencegahan pemborosan pangan dapat menjangkau lebih banyak siswa,” ucapnya.
Terkait adanya siswa yang belum terbiasa mengonsumsi menu tertentu dalam MBG, pihaknya mengedepankan pendekatan edukatif serta koordinasi dengan SPPG, agar menu yang disajikan tetap memenuhi kebutuhan gizi namun disukai anak-anak.
“Kami memberikan edukasi pentingnya mengonsumsi pangan yang beragam, bergizi, seimbang, dan aman. Harapan kami juga SPPG dapat menerima masukan dari guru pendamping terkait menu yang disukai anak, tetapi tetap memperhatikan nilai gizi dan kalori yang seimbang,” jelas Herdini. (Lind)
